Langsung ke konten utama

Dhammapada Bab XVI (XVI:7. Kisah Lima Ratus Anak Laki-laki)


Pada suatu hari festival, Sang Buddha memasuki kota Rajagaha untuk berpindapatta dengan ditemani oleh sejumlah bhikkhu. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan lima ratus anak laki-laki yang sedang berjalan menuju ke suatu taman yang indah. Anak-anak itu membawa beberapa keranjang kue pancake tetapi mereka tidak memberikan satupun kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu, “Para bhikkhu, kamu akan memakan pancake itu hari ini; pemiliknya akan datang mendekati kita. Kita akan mendapatkannya hanya setelah ada yang mengambil beberapa pancake.” Setelah mengatakan hal itu, Sang Buddha dan para bhikkhu berteduh di bawah pohon.
Pada waktu itu Kassapa Thera datang ke sana sendirian. Anak-anak itu melihatnya dan kemudian menghormat Kassapa Thera, serta mendanakan pancake mereka kepada Sang Thera.
Kassapa Thera kemudian berkata kepada anak-anak itu, “Guruku Yang Mulia beristirahat di sana di bawah pohon ditemani oleh beberapa bhikkhu. Pergi dan danakan pancake kalian kepada-Nya dan para bhikkhu.”
Anak-anak itu melakukan apa yang dikatakan oleh Kassapa Thera. Sang Buddha menerima dana pancake itu. Kemudian, para bhikkhu berkata bahwa anak-anak itu sangat menyukai Kassapa Thera.
Sang Buddha berkata kepada mereka, “Para bhikkhu, semua bhikkhu yang seperti anak-Ku Kassapa disukai oleh para dewa dan manusia. Beberapa bhikkhu hanya selalu menerima cukup pemberian empat kebutuhan bhikkhu.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 217 berikut:
Barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam Dhamma, selalu berbicara benar dan memenuhi segala kewajibannya, maka semua orang akan mencintainya.
Lima ratus anak laki-laki mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dhammapada Bab XIV (XIV:3. Kisah Raja Naga Erakapatta)

Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupannya yang lampau selama masa Buddha Kassapa ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena gelisah (kukkucca) ia telah melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil selama itu, dan ia terlahir sebagai seekor naga. Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta memiliki seorang putri yang cantik, dan ia memanfaatkannya untuk tujuan menemukan Sang Buddha. Ia membuat putrinya terkenal sehingga siapapun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan, Erakapatta membuat putrinya menari di udara terbuka dan mengumandangkan pertanyaan-pertanyaannya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan berharap memilikinya, tetapi tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang benar. Suatu hari, Sang Buddha melihat seorang pemuda yang bernama Uttara dalam pandangannya. Beliau juga mengetahui bahwa si pemuda akan men...

Dhammapada Bab XXV (XXV:3. Kisah Bhikkhu Kokalika)

Bhikkhu Kokalika telah berkata kasar dan kejam kepada dua murid utama Sang Buddha, Sariputta dan Maha Moggallana. Oleh karena perbuatan buruknya itu Kokalika terkena musibah dan meninggal dunia, lahir kembali di alam neraka Paduma. Mengetahui kejadian itu, para bhikkhu mengatakan bahwa Kokalika telah mengalami penderitaan di alam neraka karena ia tidak bisa mengendalikan lidahnya. Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu, seorang bhikkhu hendaknya berusaha mengendalikan lidahnya; tingkah lakunya harus baik; pikirannya harus tenang, bisa dikendalikan, dan tidak mengejar obyek-obyek yang menyenangkan.” Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 363 berikut: Seorang bhikkhu yang mengendalikan lidahnya, yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong, yang dapat menerangkan Dhamma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya.

Dhammapada Bab XIV (XIV:9. Kisah Stupa Emas Buddha Kassapa)

Suatu saat, ketika Sang Buddha dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Baranasi mereka tiba di sebuah tanah lapang di mana terdapat sebuah stupa suci. Tidak jauh dari kuil tersebut, seorang brahmana sedang membajak ladang, melihat sang brahmana, Sang Buddha memanggilnya. Ketika ia tiba, sang brahmana memberi penghormatan kepada stupa tersebut tetapi bukan kepada Sang Buddha. Kepadanya Sang Buddha berkata, “Brahmana, dengan memberikan penghormatan kepada stupa tersebut engkau telah melakukan sebuah perbuatan yang terpuji.” Hal itu membuat sang brahmana bergembira. Setelah membuat keadaan batinnya tenang, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, memunculkan stupa emas Buddha Kassapa dan membuatnya tetap tampak di langit. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana dan para bhikkhu yang hadir bahwa terdapat empat golongan orang yang patut dibuatkan stupa. Mereka adalah: Para Buddha (Tathagata) yang patut dihormati dan telah mencapai Penerangan Sempurna ...