Langsung ke konten utama

Dhammapada Bab X (X:9. Kisah Menteri Santati)


Suatu ketika Menteri Santati berhasil kembali dari penumpasan pemberontak di perbatasan. Raja Pasenadi begitu bangga terhadapnya, memberi kekayaan dan kegemilangan kepada menterinya serta mengadakan pesta selama 7 hari dengan para gadis penari. Selama tujuh hari menteri itu bersenang-senang, bermabuk-mabukan, dan bergembira dengan gadis-gadis penari muda belia.
Pada hari ke tujuh, dengan menunggang gajah kerajaan, dia pergi mandi ke tepi sungai. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sang Buddha yang sedang berpindapatta.
Santati menganggukkan badannya sebagai tanda memberi hormat kepada Sang Buddha.
Sang Buddha tersenyum, dan Ananda bertanya mengapa Sang Buddha tersenyum. Lalu Sang Buddha berkata, “Ananda, menteri ini akan menemuiku hari ini dan setelah aku memberikan sedikit pelajaran dia akan mencapai tingkat kesucian arahat dan kemudian dia akan meninggal dunia (parinibbana).”
Pesta Menteri Santati berlangsung sepanjang hari di tepi sungai, mandi, makan minum dan menyenangkan hati mereka. Pada sore hari pestanya berlangsung di taman, minum lebih banyak dan menari dengan gadis penari.
Gadis penari mencoba untuk menyenangkan menteri, selama seminggu gadis penari melakukan diet makan agar tampak menarik. Akan tetapi pada saat menari, dia terserang kejang-kejang dan pingsan. Akhirnya dia meninggal dunia dengan mata dan mulut yang terbuka. Menteri itu tertekan batinnya dan kecewa berat.
Pada saat itu ia memerlukan perlindungan dan teringat kepda Sang Buddha. Dia pergi menemui Sang Buddha bersama dengan pengikut-pengikutnya, dan menceritakan penderitaan yang mereka alami setelah terjadi kematian gadis penarinya.
Dia berkata, “Bhante, tolong hilangkan penderitaanku, jadilah pelindungku, berikan ketenangan di hatiku.”
Kepadanya Sang Buddha berkata, “Istirahatlah anak-KU, engkau telah datang pada seseorang yang dapat menolongmu, seseorang yang dapat menghiburmu dan menjadi pelindungmu. Air mata yang telah engkau tumpahkan pada saat penari itu meninggal dunia, bersamaan dengan air mata selama kelahiran kembali yang berulang-ulang lebih banyak jumlahnya daripada air yang terdapat dalam samudra.”
Sang Buddha kemudian mengucapkan syair ini:
“Pada saat lampau terdapat dalam dirimu kemelekatan (updana) yang disebabkan keserakahan; lenyapkanlah hal itu. Pada saat mendatang, janganlah bawa kemelekatan dalam dirimu. Jangan pula menempatkan kemelekatan terhadap apapun pada saat sekarang; dengan tidak memiliki kemelekatan, keserakahan dan kebencian akan lenyap dalam dirimu. Dan engkau akan merealisasi ‘Kebebasan Mutlak’ (nibbana).”
Setelah mendengar syair itu, menteri mencapai tingkat kesucian arahat.
Setelah mengetahui bahwa usia kehidupannya akan berakhir, Santati berkata kepada Sang Buddha, “Bhante, sekarang izinkanlah saya merealisasi ‘Kebebasan Akhir’ (parinibbana), karena saatnya telah tiba.”
Sang Buddha merestuinya, kemudian Santati terbang setinggi tujuh pohon palm di angkasa dan di sana Santati bermeditasi dengan obyek perwujudan api (tejo kasina), akhirnya beliau merealisasi ‘Kebebasan Akhir’ (parinibbana). Tubuhnya berkobar, darahnya dan daging menguap terbakar, dan tulangnya menjadi relik (dhatu) beterbangan di angkasa dan terjatuh pada sehelai kain bersih yang telah direntangkan oleh para bhikkhu atas petunjuk Sang Buddha.
Pada saat pertemuan, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, “Bhante, Menteri Santati telah merealisasi ‘Kebebasan Akhir’ (parinibbana) dengan berpakaian penuh tanda-tanda kebesaran, apakah dia seorang samana atau brahmana?”
Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, “Para bhikkhu, anak-Ku dapat disebut, baik seorang samana ataupun seorang brahmana.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 142 berikut:
Walau digoda dengan cara bagaimanapun, tetapi bila seseorang dapat menjaga ketenangan pikirannya, damai, mantap, terkendali, suci murni dan tidak lagi menyakiti makhluk lain, sesungguhnya ia adalah brahmana, seorang samana, seorang bhikkhu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dhammapada Bab XIV (XIV:3. Kisah Raja Naga Erakapatta)

Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupannya yang lampau selama masa Buddha Kassapa ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena gelisah (kukkucca) ia telah melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil selama itu, dan ia terlahir sebagai seekor naga. Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta memiliki seorang putri yang cantik, dan ia memanfaatkannya untuk tujuan menemukan Sang Buddha. Ia membuat putrinya terkenal sehingga siapapun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan, Erakapatta membuat putrinya menari di udara terbuka dan mengumandangkan pertanyaan-pertanyaannya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan berharap memilikinya, tetapi tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang benar. Suatu hari, Sang Buddha melihat seorang pemuda yang bernama Uttara dalam pandangannya. Beliau juga mengetahui bahwa si pemuda akan men...

Dhammapada Bab XXV (XXV:3. Kisah Bhikkhu Kokalika)

Bhikkhu Kokalika telah berkata kasar dan kejam kepada dua murid utama Sang Buddha, Sariputta dan Maha Moggallana. Oleh karena perbuatan buruknya itu Kokalika terkena musibah dan meninggal dunia, lahir kembali di alam neraka Paduma. Mengetahui kejadian itu, para bhikkhu mengatakan bahwa Kokalika telah mengalami penderitaan di alam neraka karena ia tidak bisa mengendalikan lidahnya. Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu, seorang bhikkhu hendaknya berusaha mengendalikan lidahnya; tingkah lakunya harus baik; pikirannya harus tenang, bisa dikendalikan, dan tidak mengejar obyek-obyek yang menyenangkan.” Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 363 berikut: Seorang bhikkhu yang mengendalikan lidahnya, yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong, yang dapat menerangkan Dhamma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya.

Dhammapada Bab XIV (XIV:9. Kisah Stupa Emas Buddha Kassapa)

Suatu saat, ketika Sang Buddha dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Baranasi mereka tiba di sebuah tanah lapang di mana terdapat sebuah stupa suci. Tidak jauh dari kuil tersebut, seorang brahmana sedang membajak ladang, melihat sang brahmana, Sang Buddha memanggilnya. Ketika ia tiba, sang brahmana memberi penghormatan kepada stupa tersebut tetapi bukan kepada Sang Buddha. Kepadanya Sang Buddha berkata, “Brahmana, dengan memberikan penghormatan kepada stupa tersebut engkau telah melakukan sebuah perbuatan yang terpuji.” Hal itu membuat sang brahmana bergembira. Setelah membuat keadaan batinnya tenang, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, memunculkan stupa emas Buddha Kassapa dan membuatnya tetap tampak di langit. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana dan para bhikkhu yang hadir bahwa terdapat empat golongan orang yang patut dibuatkan stupa. Mereka adalah: Para Buddha (Tathagata) yang patut dihormati dan telah mencapai Penerangan Sempurna ...