Langsung ke konten utama

Dhammapada Bab XXII (XXII:3. Kisah Para Bhikkhu Yang Tinggal Di Tepi Sungai Vaggumuda)


Waktu itu, sedang terjadi kelaparan di negeri kaum Vajji. Untuk memungkinkan mereka mendapat makanan yang cukup, para bhikkhu menampilkan diri seolah-olah mereka telah mencapai tingkat kesucian, meskipun sesungguhnya mereka belum mencapainya. Karena masyarakat desa mempercayai dan menghormati mereka, maka masyarakat mempersembahkan banyak makanan kepada para bhikkhu dan hanya menyisakan sangat sedikit bagi mereka sendiri.
Pada akhir masa vassa, sebagaimana telah menjadi kebiasaan, para bhikkhu dari semua bagian negeri datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha. Para bhikkhu dari tepi sungai Vaggumuda juga datang. Mereka kelihatan sehat dan segar sedangkan para bhikkhu yang lain terlihat pucat dan lusuh. Sang Buddha berkata kepada semua bhikkhu, menanyakan bagaimana mereka mendapat makanan selama menjalani masa vassa. Kepada para bhikkhu dari tepi sungai Vaggumuda, Sang Buddha bertanya secara khusus apakah mereka mendapat kesulitan memperoleh makanan sehubungan dengan kelaparan yang melanda masyarakat. Mereka menjawab bahwa mereka tidak mendapat kesulitan sama sekali dalam mendapatkan dana makanan.
Sang Buddha mengetahui bagaimana perilaku para bhikkhu tersebut untuk mendapat dana makanan yang cukup. Tetapi Beliau ingin memberi pelajaran kepada mereka dalam hal ini, sehingga Beliau bertanya, “Bagaimana kamu mengatur sedemikian baik untuk mendapatkan dana makanan selama masa vassa?”
Para bhikkhu bercerita bagaimana mereka berdiskusi di antara mereka sendiri dan kemudian memutuskan bahwa mereka seharusnya menyapa satu sama lain dalam cara sedemikian rupa sehingga para penduduk akan berpikir bahwa mereka benar-benar telah mencapai tingkat pengembangan batin jhana, dan tingkat kesucian.
Kemudian Sang Buddha bertanya kepada mereka apakah mereka telah benar-benar mencapai jhana, dan tingkat kesucian. Ketika mereka menjawab belum, Sang Buddha menegur mereka.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 308 berikut:
Lebih baik menelan bola besi panas seperti bara api daripada selalu menerima dana makanan dari orang lain dan tetap berkelakuan buruk serta tak terkendali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dhammapada Bab XIV (XIV:3. Kisah Raja Naga Erakapatta)

Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupannya yang lampau selama masa Buddha Kassapa ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena gelisah (kukkucca) ia telah melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil selama itu, dan ia terlahir sebagai seekor naga. Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta memiliki seorang putri yang cantik, dan ia memanfaatkannya untuk tujuan menemukan Sang Buddha. Ia membuat putrinya terkenal sehingga siapapun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan, Erakapatta membuat putrinya menari di udara terbuka dan mengumandangkan pertanyaan-pertanyaannya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan berharap memilikinya, tetapi tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang benar. Suatu hari, Sang Buddha melihat seorang pemuda yang bernama Uttara dalam pandangannya. Beliau juga mengetahui bahwa si pemuda akan men...

Dhammapada Bab XXV (XXV:3. Kisah Bhikkhu Kokalika)

Bhikkhu Kokalika telah berkata kasar dan kejam kepada dua murid utama Sang Buddha, Sariputta dan Maha Moggallana. Oleh karena perbuatan buruknya itu Kokalika terkena musibah dan meninggal dunia, lahir kembali di alam neraka Paduma. Mengetahui kejadian itu, para bhikkhu mengatakan bahwa Kokalika telah mengalami penderitaan di alam neraka karena ia tidak bisa mengendalikan lidahnya. Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu, seorang bhikkhu hendaknya berusaha mengendalikan lidahnya; tingkah lakunya harus baik; pikirannya harus tenang, bisa dikendalikan, dan tidak mengejar obyek-obyek yang menyenangkan.” Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 363 berikut: Seorang bhikkhu yang mengendalikan lidahnya, yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong, yang dapat menerangkan Dhamma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya.

Dhammapada Bab XIV (XIV:9. Kisah Stupa Emas Buddha Kassapa)

Suatu saat, ketika Sang Buddha dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Baranasi mereka tiba di sebuah tanah lapang di mana terdapat sebuah stupa suci. Tidak jauh dari kuil tersebut, seorang brahmana sedang membajak ladang, melihat sang brahmana, Sang Buddha memanggilnya. Ketika ia tiba, sang brahmana memberi penghormatan kepada stupa tersebut tetapi bukan kepada Sang Buddha. Kepadanya Sang Buddha berkata, “Brahmana, dengan memberikan penghormatan kepada stupa tersebut engkau telah melakukan sebuah perbuatan yang terpuji.” Hal itu membuat sang brahmana bergembira. Setelah membuat keadaan batinnya tenang, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, memunculkan stupa emas Buddha Kassapa dan membuatnya tetap tampak di langit. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana dan para bhikkhu yang hadir bahwa terdapat empat golongan orang yang patut dibuatkan stupa. Mereka adalah: Para Buddha (Tathagata) yang patut dihormati dan telah mencapai Penerangan Sempurna ...