Langsung ke konten utama

Dhammapada Bab XXII (XXII:6. Kisah Seorang Wanita Berwatak Iri Hati)


Seorang wanita dengan perasaan iri hati yang kuat tinggal bersama suaminya di Savatthi. Ia mengetahui bahwa suaminya berselingkuh dengan pelayan wanitanya. Pada suatu hari ia mengikat wanita pelayan tersebut dengan tali yang kuat, memotong telinga dan hidungnya, dan mengurungnya di suatu kamar. Setelah melakukan hal tersebut, ia meminta suaminya untuk menemaninya pergi ke Vihara Jetavana. Tidak lama setelah mereka pergi, beberapa kerabat pelayan tersebut datang di rumah mereka, menemukan pelayan tersebut terikat dan terkunci di suatu kamar. Mereka mendobrak kamar tersebut, melepaskannya dan membawanya ke vihara. Mereka tiba di vihara ketika Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma. Wanita pelayan tersebut menceritakan kepada Sang Buddha apa yang telah dilakukan oleh majikan wanitanya, bagaimana ia telah dipukuli, dan bagaimana hidung dan telinganya dipotong. Ia berdiri di tengah kerumunan orang agar semua orang dapat melihat bagaimana ia telah diperlakukan dengan buruk.
Kemudian Sang Buddha berkata, “Janganlah berbuat jahat dengan berpikir bahwa orang-orang tidak akan mengetahuinya. Suatu perbuatan buruk yang dilakukan secara rahasia, bila ditemukan akan bawa penderitaan dan kesedihan; tetapi perbuatan baik dapat dilakukan secara rahasia, karena hal itu hanya akan membawa kebahagiaan dan bukan penderitaan.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 314 berikut:
Sebaiknya seseorang tidak melakukan perbuatan jahat, karena di kemudian hari perbuatan itu akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik seseorang melakukan perbuatan baik, karena setelah melakukannya ia tidak akan menyesal.
Pasangan suami istri itu mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dhammapada Bab XIV (XIV:3. Kisah Raja Naga Erakapatta)

Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupannya yang lampau selama masa Buddha Kassapa ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena gelisah (kukkucca) ia telah melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil selama itu, dan ia terlahir sebagai seekor naga. Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta memiliki seorang putri yang cantik, dan ia memanfaatkannya untuk tujuan menemukan Sang Buddha. Ia membuat putrinya terkenal sehingga siapapun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan, Erakapatta membuat putrinya menari di udara terbuka dan mengumandangkan pertanyaan-pertanyaannya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan berharap memilikinya, tetapi tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang benar. Suatu hari, Sang Buddha melihat seorang pemuda yang bernama Uttara dalam pandangannya. Beliau juga mengetahui bahwa si pemuda akan men...

Dhammapada Bab XXV (XXV:3. Kisah Bhikkhu Kokalika)

Bhikkhu Kokalika telah berkata kasar dan kejam kepada dua murid utama Sang Buddha, Sariputta dan Maha Moggallana. Oleh karena perbuatan buruknya itu Kokalika terkena musibah dan meninggal dunia, lahir kembali di alam neraka Paduma. Mengetahui kejadian itu, para bhikkhu mengatakan bahwa Kokalika telah mengalami penderitaan di alam neraka karena ia tidak bisa mengendalikan lidahnya. Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu, seorang bhikkhu hendaknya berusaha mengendalikan lidahnya; tingkah lakunya harus baik; pikirannya harus tenang, bisa dikendalikan, dan tidak mengejar obyek-obyek yang menyenangkan.” Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 363 berikut: Seorang bhikkhu yang mengendalikan lidahnya, yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong, yang dapat menerangkan Dhamma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya.

Dhammapada Bab XIV (XIV:9. Kisah Stupa Emas Buddha Kassapa)

Suatu saat, ketika Sang Buddha dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Baranasi mereka tiba di sebuah tanah lapang di mana terdapat sebuah stupa suci. Tidak jauh dari kuil tersebut, seorang brahmana sedang membajak ladang, melihat sang brahmana, Sang Buddha memanggilnya. Ketika ia tiba, sang brahmana memberi penghormatan kepada stupa tersebut tetapi bukan kepada Sang Buddha. Kepadanya Sang Buddha berkata, “Brahmana, dengan memberikan penghormatan kepada stupa tersebut engkau telah melakukan sebuah perbuatan yang terpuji.” Hal itu membuat sang brahmana bergembira. Setelah membuat keadaan batinnya tenang, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, memunculkan stupa emas Buddha Kassapa dan membuatnya tetap tampak di langit. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana dan para bhikkhu yang hadir bahwa terdapat empat golongan orang yang patut dibuatkan stupa. Mereka adalah: Para Buddha (Tathagata) yang patut dihormati dan telah mencapai Penerangan Sempurna ...